“Tuhan, aku minta agar aku dan dia bersatu, tapi kau pisahkan. Aku memperkecilkan harapanku, tak apa aku dan dia tidak bersatu, tapi tetapkanlah cintanya dalam diriku, dan sebaliknya. 
     Tapi apa yang Kau lakukan? Kau ambil rasa cinta dari hatinya lalu Kau berikan itu pada istrinya.
     Aku minta mereka tak bahagia, namun Kau tunjukkan di depan mataku, bahwa mereka benar-benar bahagia dan saling mencinta.
     Apa karena semua do’aku buruk, sehingga Kau tolak semuanya?
     Apa karena takdir?
     Mari salahkan takdir kalau begitu.
     Aku benci takdir. Aku benci jalan hidupku sendiri hingga aku juga membenci-Mu tanpa sadar. Aku membenci-Mu seolah Engkau ada di dekatku.
     Tapi takdir jalan terus. Hidupku yang kukira akan segera berakhir, sebab penyakitku dan depresi yang kuderita pascaperistiwa itu, ternyata masih berlangsung hingga kini. Dan Kau masih ada. Tetap ada.
     Akhirnya aku tak sanggup lagi membenci. Aku tak lagi membenci takdirku, tak lagi membenci jalan hidupku, dan tak lagi membenci Engkau. Tapi bukan berarti aku mulai dengan perasaan sebaliknya terhadap semua. Aku mati rasa.
     Maka kumohon, Tuhan, tolong bahagiakan mereka. Kekalkan Cinta mereka. Sirami mereka dengan kebahagiaan. Dan khusus untukku, Tuhan, tolong lupakan aku. Tolong tinggalkan aku. Sebab aku telah mati rasa buat semua yang ada.” -Pepey-

from: Majalah Ummi. Cerbung oleh Ifa Afianty. Episode terakhir

About these ads